Sabtu, 21 April 2012

Memahami Komunikasi Politik SBY

Kadang, komunikasi politik Presiden SBY terlihat begitu normatif, bahwa semua tindakannya terukur, terarah, terkendali, predictable, dan sesuai dengan yang ada dalam bayangan kita. Pokoknya, semua berjalan baik-baik saja.
Pada saat yang lain, tindakan presiden yang sering maju–mundur itu mengomunikasikan bahwa ia sendiri pun tak tahu mengatasi kekuatan politik lain yang dirangkulnya sendiri sehingga tak bisa membangun gaya kepemimpinan sesuai dengan karakter personalnya. Kombinasi dua hal yang bertentangan ini membuat kita sulit memahami komunikasi politik Presiden SBY.
Dari begitu banyak pakar komunikasi politik yang mengamatinya, kesulitan memahami itu bukan terletak pada gagalnya ilmu komunikasi dalam menjelaskan perkembangan praktik komunikasi politik actual. Tetapi lebih pada ketidakhabispikiran mereka mengapa komunikasi politik Presiden SBY menjadi lemah ketika berhadapan dengan kekuatan-kekuatan politik yang mengelilinginya.
Saya melihat bahwa pakar-pakar ini sebenarnya tidak rela jika presiden sebagai komunikator politik utama negeri ini tidak dominan di tengah begitu besar potensi komunikasi yang ia miliki.Di manapun di dunia ini, yang namanya komunikator politik adalah mereka yang berhasil mengondisikan publik segala level dengan komunikasinya.
Sebaliknya, keberhasilan komunikator politik pada level-level bawah saja seringkali dianggap sebagai nasib baik atau malah telah mengambil keuntungan politis dari terbatasnya pengetahuan level bawah yang mayoritas itu.
Ketika para pengamat atau politisi melihat seorang elit politik sukses lebih karena retorika atau persuasinya pada level bawah, maka mereka melihat titik lemah demokrasi--yang selalu memrioritaskan suara mayoritas sebagai suara kebenaran--telah dimanfaatkan oleh elite untuk raihan politis atas keterbatasan pengetahuan level bawah. Beberapa waktu lamanya, mereka yang peduli akan mendorong presiden agar beraksi nyata dalam mengurusi rakyat yang telah memberi mandat besar itu.
Akan tetapi, sering sekali ada kekecewaan terhadap Presiden SBY yang dinilai tidak bertindak nyata di tengah mandat besar di tagannya. Akibatnya, langkah-langkah Presiden semakin sulit dipahami karena para pengamat atau politisi tadi berusaha mendorong presiden dengan cara mengritiknya.
Lalu, seringkali reaksi presiden atas kritik sulit diambil simpulan definitifnya. Ketika ini terjadi antara presiden dengan kritikusnya, maka orientasi pembahasan juga seringkali bergeser ke persoalan makna kata. Lalu, berhenti di sana karena lelah atau ada kasus lain yang sebagian besar juga akan berakhir sama.

Pusatnya Presiden
Secara sistim komunikasi, Presiden hanya satu dan menjadi pusat utama sistim komunikasi politik itu. Itulah sebabnya mengapa para juru bicara sering dianggap sebagai sumber informasi skunder tentang berbagai hal. Dalam situasi ini, para komunikator politik yang menjadi kritikusnya jelas lebih banyak secara kuantitas, sekaligus juga lebih sulit dipahami karena terlalu banyak. Ketika ini terjadi, orang langsung mengarahkan diri menjadi komunikan presiden saja. Di sinilah presiden seharusnya berkomunikasi secara jelas dan definitif maksudnya agar semua unit komunikasi menjadi sinkron dengannya.
Sayangnya, Presiden SBY kerap terlihat tidak menggunakan potensinya sebagai pusat komunikasi ini untuk menimbulkan kesamaan pemahaman tentang objek yang dibahasnya. Malah, dalam masalah reshuffle atau nasib koalisi belakangan ini, ia membuat orang-orang di sekitarnya menjadi terlihat tidak sejalan komunikasinya dengan presiden.
Akibatnya, orang melupakan kebingungan kepada orang-orang di sekitar presiden dan para kritikusnya dan kembali berharap presiden sebagai pusat komunikasi dan klarifikasi. Lalu, kembali kebingungan sehingga melupakan masalah secara temporal dianggap sebagai solusinya.
Sebenarnya, di sinilah Presiden SBY harus belajar kepada pendahulunya, yaitu mantan Presiden Abdurrahman Wahid yang sering menimbulkan kebingungan juga akibat pernyataannya yang sering kontroversial itu. Di sini, ada karakteristik bahasa tubuh yang sangat berbeda antara keduanya. Bukan maksud saya membandingkan karena keduanya tetap menimbulkan kebingungan bagi saya pribadi, tetapi sebaiknya ada kesesuaian antara bahasa tubuh yang serius dengan bahasa kata-kata yang juga harus memberi klarifikasi yang efektif dan efisien.
Kalau kita ingat Presiden Abdurrahman Wahid lengser karena salah satunya adalah ia selalu menimbulkan kontroversi dengan kata-katanya, maka di sinilah Presiden SBY harus mengerti betapa pentingnya keselarasan antara bahasa tubuh, bahasa kata-kata, dan tindakan itu.
Bayangkan, dengan bahasa tubuh yang serius dan bahasa kata-kata yang sedemikian baiknya, meskipun maknanya selalu multitafsir dan aksi nyata yang terkadang tidak hadir, menjadi modal utama untuk ia menarik simpati rakyat. Jadi, alangkah bijkasananya jika potensi komunikasi yang dimilikinya itu plus ahli-ahli di sekitarnya itu digunakan untuk membuat rakyat tahu secara jelas dan bertindak sesuai dengan apa yang dikomunikasikan oleh presiden.
Sebenarnya, semua karakteristik dan gaya komunikasi yang dimiliki para pemimpin adalah istimewa. Soekarno dengan gaya yang meledak dan orasi yang membakar, Soeharto yang sederhana dan kerap membunyikan vokal a menjadi e lemah, Habibie dengan gaya teknokratnya, Gus Dur yang selalu humoris seenaknya, Megawati dengan keperempuanannya, sampai SBY hari ini yang santun dan bakunya, semua itu adalah dibutuhkan sesuai zamannya.
Sekaligus, ini menunjukkan bahwa semua presiden punya kelemahan komunikasi yang sama nilainya, hanya bentuknya saja yang berbeda-beda. Tapi sebagai Presiden Indonesia di abad 21 dan yang pertama yang dipilih secara langsung, alangkah elegan-nya kalau SBY mengartikulasikan keistimewaan pendahulunya itu dalam gaya komunikasi kata dan tindakan sambil meminimalisasi semua kelemahan pendahulunya.
Pemilihan secara langsung ini juga menimbulkan tuntutan baru di masyarakat atas presidennya, yaitu komunikasi yang lebih langsung, baik prosesnya maupun maknanya. Itulah sebabnya mengapa Presiden SBY sering dituntut untuk lebih baik lagi dalam komunikasinya kepada rakyat. Sebaliknya, akan sangat terasa kekecewaan rakyat jika komunikasi Presiden SBY sering tidak jelas atau berbeda dengan kenyataan.

Agar dipahami
Agar komunikasi politik presiden, siapapun presidennya, mudah dipahami, maka semua kita tahu metodenya, yaitu sesuaikan antara kata dengan tindakan. Orang cenderung tidak terlalu kecewa jika Presiden SBY mengambil kata dan tindakan yang berbeda dengan keinginan orang tersebut karena bagaimanapun begitulah hidup ini, selalu berbeda. Kekecewaan yang mendalam adalah jika berkali-kali presiden hanya sesuai dengan rakyat secara kata-kata saja.
Dan dalam seni komunikasi politik, justru karena adanya perbedaan inilah para pemimpin itu bisa membuat kagum, bahwa dalam hal yang memang diperlukan dan batas-batas tertentu, ia adalah orang yang berkarakter kuat.
Saya masih sangat ingat iklan pertama SBY sebelum melangkah mencalonkan diri menjadi presiden pada 2004. Dalam iklan tersebut, salah satu kalimatnya adalah, “Mari kita dengar suara rakyat”. Pada saat itu, kalimat bernada demokratis itu didukung oleh karakter fisik yang kuat sehingga menjadi begitu berbeda di mata kita. Pada pidato-pidato pertamanya setelah ia menjadi presiden, kalimat, “Mari... menuju lebih baik” masih sering digunakan. Setelah itu, orang kemudian menanti bagaimana teknik operasional konkret untuk menjadi lebih baik itu. Ketika keadaan tidak banyak berobah, orang kemudian mempertanyakan kalimat-kalimat seperti itu sebagai sulit dipahami.
Kini, sisa masa pemerintahan Presiden SBY tinggal 3 tahun lebih sedikit. Tentu ia masih melaksanakan tugasnya salahsatunya bersifat komunikasional. Maka, waktu tiga tahun itu masih cukup panjang untuk dia bisa dipahami secara komunikasi.
Selain itu, bangsa Indonesia juga harus belajar bahwa komunikatif dalam pemerintahan dan kenegaraan sangatlah perlu. Karena tidak komunikatiflah maka kita merasakan banyak pihak yang saling mengancam belakangan ini, mulai dari ancaman kecil dan halus sampai terang-terangan.
Mengapa terjadi saling ancam ? Karena mereka menganggap komunikasi yang normal tidak banyak memberi hasil di tengah mereka belum mau melakukannya secara normal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar